Sebuah Perjalanan
Banjarmasin, 1 oktober 1997.
Sang merah-putih terlihat berkibar di setengah tiang di beberapa rumah. Siang
hari di sebuah rumah sakit bersalin di ibukota provinsi Kalimantan selatan tersebut
seorang wanita bernama Mulyani tengah berjuang mempertaruhkan nyawanya, disampingnya
seorang pria bernama Evi Octavia terlihat ekspresi cemas, Tidak lama kemudian
terlahir seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Vini Jauza Pratiwi.
Terlahir pada hari kesaktian pancasila nama saya mengandung arti “datang
bintang Indonesia”. Meskipun saya lahir di Kalimantan, saya terlahir berdarah
padang karena kedua orang tua yang asli dari padang. Ibu saya adalah seorang
dokter umum dan ayah saya adalah seorang pegawai negeri di departemen keuangan
bea-cukai.
Saya kemudian tinggal
bersama orang tua saya dan seorang pembantu selama 4 tahun. Saya sempat
mengikuti pendidikan taman kanak-kanak. Pada tanggal 21 september 2001, adik
saya lahir dan diberi nama Virsya Pramesti Salsabila. Tak lama setelah adik saya
lahir, ayah saya dipindah tugaskan ke gresik, jawa timur. Setelah di Gresik
ayah saya tetap mendapat pindah tugas keluar seperti, Lombok, Balikpapan, dsb,
namun keluarga saya memutuskan untuk tetap tinggal di Gresik dan menyelesaikan
pendidikan. Di Gresik saya dan adik saya dibesarkan. Saya meneruskan pendidikan
TK di TK petrokimia kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SD Negeri
Sidokumpul 2. Di kelas 5 sd dan kelas 6 sd saya sempat meraih piala murid
teladan satu kabupaten Gresik. Seusai lulus pendidikan dasar saya melanjutkan
ke sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Gresik. Saat SMP saya mulai
mengalami masa-masa pubertas seorang gadis. Lulus SMP orang tua saya memutuskan
untuk pindah ke daerah jabodetabek, karena keluarga lebih banyak disana dan
daerah jabodetabek memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke universitas
negeri yang saya inginkan.
Keluarga saya akhirnya
pindah ke tangerang selatan, tepatnya di Griya loka sector 1.3 blok bf no 28
Bumi Serpong Damai, tangerang selatan. Awal pindah pendaftaran SMA Negeri saat
itu sudah ditutup hingga akhirnya saya memutuskan untuk bersekolah di SMA
swasta terlebih dahulu, yaitu di SMA Kharisma Bangsa. Mungkin karena lingkungan
pergaulan di jawa timur dan sekolah swasta elit di tangsel berbeda, saya mengalami
masa sulit beradaptasi di awal masa SMA saya. Akhirnya,setelah 1 semester di
SMA Swasta, orang tua saya juga memutuskan untuk memindahkan saya ke SMA Negeri
7 Tangerang selatan, selain karena biaya negeri yang lebih terjangkau, juga
karena universitas negeri yang cenderung menerima calon mahasiswa dari SMA
Negeri. Di SMAN 7 atau biasa disebut juga smanjul, saya mendapat banyak
pelajaran, baik itu pelajaran akademis maupun pelajaran hidup. Disini juga saya
memahami apa makna persahabatan, apa makna solidaritas, disni saya menemukan
siapa yang ada disaat saya susah, dan siapa yang hanya ada disaat butuh saya
saja.
Naik ke kelas 12 SMA adalah
masa masa puncak saya di SMA, masa dimana saya mulai serius untuk meraih cita
cita saya. Dari semenjak saya kecil cita-cita saya suka berubah rubah, saat SD
saya pernah ingin menjadi dokter, saat SMP saya ingin menjadi duta besar dan
mengambil jurusan hubngan internasional. Saat SMA kelas 1 kemudian saya
tertarik pada jurusan teknik industry, sehingga pada akhirnya saya masuk ke
jurusan ipa. Semakin lama saat kelas 12, saya kembali berubah pikiran dan
kepikiran untuk masuk ke jurusan Desain Komunikasi Visual atau biasa disingkat
DKV. Sejak dulu saya memang suka menggambar sketsa, mendesain poster dan hal
hal lain yang berbau seni dan sastra, namun sayangnya saat saya mengutarakan
keinginan ini pada orang tua saya, mereka kurang menyetujui karena memang biaya
kuliah DKV tidak sedikit. Saya kembali mencoba mendalami minat saya, dan
akhirnya saya menyadari sesuatu. Saya suka mendengarkan keluh kesah orang, saya
suka ketika orang mempercayai saya untuk bercerita, meminta pendapat atau hanya
untuk sekedar menangis melampiaskan emosi, kemudian saya terpikir untuk memilih
jurusan psikologi, dan saat sbmptn saya memilih jurusan psikologi sebagai
pilihan pertama dan sastra perancis untuk pilihan kedua. Namun mungkin memang
bukan takdir saya untuk kuliah di universitas negeri, hingga pada akhirnya saya
saat ini tercatat sebagai mahasiswi psikologi di Universitas Gunadarma.
Meskipun kelas 12 adalah
saat untuk fokus ke cita cita, namun saya menyemoatkan waktu saya untuk
mengikuti kepanitiaan Buku Tahunan Sekolah, karena kesukaan saya dalam
berorganisasi dan dengan hal hal yang berbau seni, desain, dan sastra. Dalam
kepanitiaan ini saya mempunyai tugas untuk membuat cerita tentang kelas saya
semasa kelas 11 & 12 SMA.
Menurut saya hidup adalah
suatu hal yang harus di syukuri, bukan di sesali dan di setiap kejadian buruk
yang ada dalam hidup pasti ada sisi positif. Hidup juga tak selamanya diatas,
jadi ketika saya merasa berada di titik terbawah hidup, saya selalu berusaha
meyakinkan bahwa hidup tak selamanya buruk, dan semua ada masanya, entah itu
masa kelam ataupun masa indah. Dan dalam kehidupan, karma itu ada, entah itu
cepat atau lambat. Prinsip saya “apa yang kamu tanam, apa yang kamu rawat,
itulah yang kamu dapatkan nanti”, pada akhirnya setiqp orang akan mendapatkan
apa yang sesuai dengan usahanya. Bagaimanapun, hidup itu hanyalah perjalanan,
perjalanan menuju kematian.
Nama : Vini Jauza Pratiwi
NPM : 17515040
0 comments:
Post a Comment